• Priska Athaya

Menghadapi Algoritma Sosial Media Tanpa Drama, Trauma dan Amarah

Kalian ngalamin Instagram waktu tampilannya masih begini nggak?

Source: mactrast.com


Rasanya waktu awal munculnya Instagram, belum banyak orang yang menggunakan platform ini seperti sekarang; Instagram dipakai untuk jualan atau ajang influencers buat unjuk diri. Hal itu juga yang pada akhirnya berpengaruh dengan cara sosial media bekerja sekarang. Sadar nggak sih kalau ini ngaruh ke algoritma sosial media saat ini?


Dulu, post yang tampil di timeline kita bersifat kronologis. Tapi sekarang, post yang muncul diurutkan berdasarkan algoritma. Instagram sendiri mengakui ini dalam akun Twitter mereka. Mereka bilang cara kerja timeline saat ini dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti ketepatan waktu postingan, seberapa sering kita menggunakan Instagram, berapa banyak orang yang kita ikuti, dan lain-lain.

Source: twitter.com/instagram


Kalau kalian nonton film dokumenter dari Netflix berjudul “The Social Dilemma”, pasti kalian udah nggak asing dengan permasalahan algoritma yang sering didebatin sama warganet. Film itu bener-bener ngasih kita pencerahan tentang cara kerja algoritma media sosial dalam kasus ekstrem. Film ini juga ngejelasin secara padat tentang bagaimana algoritma di media sosial bisa bercabang ke isu kapitalisme, kesehatan mental, politik, dan masih banyak lagi. Parahnya lagi, film ini bilang kalau sistem algoritma ini yang bikin orang-orang bisa kecanduan sama media sosial.


Algoritma sebenarnya dapat terbentuk karena perilaku pengguna media sosial itu sendiri. Seluruh aktivitas yang kita lakukan di internet bakal jadi sebuah algoritma yang besar dan tersinkronisasi. Banyak orang ngerasa hal ini adalah sesuatu yang menakutkan. Algoritma ini bikin banyak orang ngerasa kalau mereka lagi diawasin sama sistem atau otoritas yang lebih tinggi. Tetapi sebenernya, algoritma itu sendiri dibuat untuk membantu penggunanya, bukan untuk mempersulit.


Kalau kita ngerasa takut “diawasi” karena kemunculan algoritma, harusnya kita meluangkan waktu untuk mencari cara bagaimana algoritma itu bekerja, bukan malah keluar dari hal itu karena rasanya hampir nggak mungkin untuk kita keluar dari internet disaat seluruh kehidupan kita benar-benar bergantung pada internet. Salah satu cara mengetahui bagaimana algoritma itu bekerja adalah dengan menyadari bahwa aktivitas kita di internet dapat menjadi sebuah efek bola salju yang membentuk algoritma itu sendiri. Setiap kita menyukai postingan, menonton video, atau membeli sesuatu secara daring, kita telah memberikan data yang dapat digunakan untuk membuat prediksi tentang tindakan kita selanjutnya.


Pada akhirnya, kita nggak perlu takut dengan algoritma karena algoritma sebenarnya cuma membaca tingkah laku kita di internet. Ia berusaha untuk mengkotak-kotakkan interest manusia, tetapi nyatanya, manusia jauh lebih pintar dan lebih kompleks untuk dapat disederhanakan oleh sebuah algoritma. Tapi sebenernya nggak ada salahnya juga buat kamu nyaman dengan algoritma. Kalau kata filsuf asal Jerman Martin Heidegger:


“Technology is a mode of revealing”

Teknologi dibuat oleh manusia dan seharusnya menjadi sarana untuk memudahkan kita dan sekarang ini, teknologi udah bisa untuk memahami dan menyibak isi dan pribadi manusia ke manusia lainnya. Makanya, kita yang harus sadar kalau kita yang membuat teknologi dan juga membentuk algoritma, dan bukan sebaliknya.


256 views0 comments