• Lia Levina, Nisa Rahtio & Geni T. Putri

Sudut Opini: Perkembangan Desain Grafis yang Lahir di Tengah-Tengah Tahun yang Berat

Updated: Sep 9

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Daring, evolusi adalah “perubahan (pertumbuhan, perkembangan) secara berangsur-angsur dan perlahan-lahan (sedikit demi sedikit). Dan setuju gak sih kalau setiap detik kehidupan ini merupakan sebuah proses evolusi? Bentuk tubuh, jenis-jenis hewan, gaya hidup, makanan, cara berpikir, infrastruktur -- ada banyak banget hal yang telah mengalami perubahan dari zaman purba hingga sekarang dan seterusnya, walau mungkin baru kita sadari saat kita melihat ke belakang.


Salah satu hal yang gak luput dari perubahan adalah desain grafis dalam industri kreatif! Desain grafis adalah sebuah konten visual berisi pesan yang ditujukan pada audiensnya, dan walaupun sudah ada sejak lama, istilah “desain grafis” itu sendiri baru digunakan pada tahun 1922 oleh William Addison Dwiggins, seorang ilustrator asal Amerika Serikat.


Fast forward ke tahun 2020, desain grafis gak hanya muncul dalam media cetak--seperti poster atau pamflet yang banyak diedarkan pada tahun 1940-an--tapi juga di berbagai tempat dan perangkat, termasuk di genggaman tangan kita sendiri alias smartphone. Teknologi telah berperan sebagai pendongkrak sekaligus sarana penyalur kreativitas terutama di era Industri 4.0 ini, dan berkat kecanggihan Internet yang selalu meningkat, tren-tren desain grafis pun terus bermunculan dan menyebar luas ke berbagai belahan dunia.

(Sumber: McGill Library via unsplash.com)

Selain itu, dengan banyaknya perubahan serta peristiwa-peristiwa penting yang terjadi di dunia, peran desain grafis pun jadi gak hanya terbatas sebagai “penghias cerita”, tapi juga sebagai jembatan komunikasi di tengah-tengah berbagai lapisan audiens. Lewat tampilan-tampilan visual yang unik, kece, dan ciamik, desain grafis memiliki fungsi merespon dan meningkatkan kesadaran publik atas isu atau keadaan-keadaan sosial. Intinya, bisa membuat hati tersentuh gitu deh!


Sehubungan dengan adanya pandemi COVID-19 yang melanda dunia saat ini, serta isu-isu sosial dan lingkungan yang banyak diperbincangkan selama 7 bulan terakhir, Studio Lengua pun telah mengamati berbagai jenis perkembangan desain grafis di industri kreatif. Dan sebagai salah satu agensi yang ikut terlibat di dalam industri ini, kami juga merasa perlu beropini, karena kenapa tidak? Toh tidak ada yang salah dari beropini hehehe. Siapa tau dari opini-opini kami, kamu bisa menemukan insight-insight baru baik buat diri kamu sendiri, teman, atau mungkin ada hal-hal lain yang bisa kamu tambahkan buat kami dan sesama pembaca di kolom komentar nanti.


So, let’s keep on reading!


PERKEMBANGAN DALAM TYPOGRAPHY

Kalau mendengar kata typography, pasti banyak yang mengaitkannya dengan font. Keduanya memang saling bersangkutan, tapi menurut Encyclopedia Britannica, typography itu sendiri berarti desain yang berasal dari pemilihan banyak huruf yang disusun dan membentuk kata-kata serta kalimat, sehingga bisa disatukan dalam sebuah balok yang digunakan sebagai alat cetak pada sebuah halaman koran atau buku. Tidak terbatas pada huruf saja, tapi beberapa hal seperti ukuran tiap-tiap font, jarak antar font, dan jarak antar kata juga termasuk dalam seni typography. Memang pada awalnya, typography digunakan sebagai alat cetak, namun seiring perkembangannya, typography turut berkembang di dunia modern dengan satu tujuan yang sama seperti typography pada awal kemunculannya: komunikasi yang lebih efektif.

Sumber: Alice Donovan Rouse via unsplash.com

Lalu, apa salah satu bentuk typography yang muncul dari respon terhadap peristiwa sosial di tahun 2020 ini? Jika kamu ingat beberapa waktu lalu, ketika ada banyak post Instagram mendadak jadi hitam dengan tambahan hashtag #BlackLivesMatter pada caption-nya, maka besar kemungkinan kamu juga akan ingat dengan protes besar-besaran pada Juni 2020 di Amerika yang mengecam white supremacy dan kekerasan terhadap komunitas kulit hitam di dunia. Yang menarik, cardboard-cardboard berisi protes pada demonstrasi tersebut menjadi pemantik dibuatnya typeface baru oleh Vitamin London, sebuah agensi desain di Inggris.


Mereka--Vitamin London--menyebut kumpulan huruf dari tulisan di cardboard para protestan sebagai Topic Type BLM. Tujuannya adalah untuk membawa emosi dan energi pada protes fisik ke dunia digital. Dengan begitu, semua lapisan masyarakat bisa menyuarakan pendapat mereka terkait gerakan Black Lives Matter dengan huruf yang terasa sangat personal meski tidak berada langsung di tiap protesnya. Topic Type BLM bisa diunduh secara gratis dengan cara menunjukkan bukti donasi pada salah satu organisasi yang terkait dengan Black Lives Matter, sehingga penggunaannya tepat sasaran. Terdengar seperti sebuah aksi win-win, ya?

Nah, selain Topic Type BLM, ada juga TopicType AUS yang sama-sama diawali dari fenomena yang sedang menjadi perbincangan saat itu. Topic Type AUS lebih fokus pada bencana kebakaran hutan di Australia pada tahun 2019. Font klasik Helvetica dicetak pada kertas, kemudian tiap-tiap hurufnya dibakar sehingga tercipta bentuk font yang baru dan sangat berbeda, sebagai bentuk optimisme akan munculnya perubahan berangkat dari bencana yang tidak diduga. Serupa dengan penyediaan Topic Type BLM, Vitamin London akan mengirim TopicType AUS kepada mereka yang menunjukkan bukti donasi kepada salah satu organisasi yang membantu mengatasi kebakaran Australia.

Menurut kami…


Tim Desain

Tim Non-Desain


Tika: Dilihat dari teknisnya, gue merasa kalau Topic Type BLM ini pembuatannya gak asal-asalan, benar-benar tulisan tangan para pendemo diambil jadi bahan acuan yang bikin setiap typeface-nya jadi terasa personal dan genuine. Dan unsur estetikanya juga diperhatikan banget, sehingga pas dirangkai jadi satu kata atau kalimat, tetap kelihatan harmonis.

Geni: Menurut aku juga kedua jenis typeface ini (BLM dan AUS) bentuknya unik-unik, dan cerita atau latar belakang kemanusiaan serta lingkungan yang ada di baliknya juga bikin hasilnya jadi lebih menarik. Tapi di sisi lain, karena keunikan dan bentuknya yang variatif, gak semua desain dapat mengaplikasikan typeface yang seperti ini.

Renata: Iya gue setuju, walaupun typeface ini bisa jadi pemanis dan menarik perhatian, tapi kayaknya cuma cocok untuk kalangan muda atau milenial aja sih.

Stefen: Penempatannya juga harus dipertimbangkan banget ya, soalnya kalau target audience-nya boomers, gak cocok pakai typeface ini.

Renata: Yes, betul sekali!

Dibya: Menurut gue typeface-nya emang biasa-biasa aja, tapi ide kritis di belakangnya cukup menarik.

Ami: Terlepas dari penggunaan dan dampaknya, menurut gue Vitamin London punya nilai lebih dengan menghadirkan kedua typeface tersebut. Soalnya publik jadi melihat kalau agensi ini punya empati dan peka terhadap isu-isu sosial di dunia. Walaupun masalah ras dan kebakaran hutan gak langsung terselesaikan, orang-orang tetap dibuat sadar kalau isu-isu seperti ini sedang terjadi.

Topic Type BLM (Sumber: Design Week)

Caya: Gue juga mikirnya typeface ini jadi sarana promosi tentang si Vitamin London itu sendiri, baik dari segi skill mereka dan juga segi kemanusiannya, seperti yang kak Ami bilang. Lewat penyediaan typeface yang gratis dan gak ribet (cukup kasih lihat ada bukti donasi), Vitamin London ini seakan-akan mau bilang ke publik kalau mereka itu aware sama keadaan dunia and more people should too.

Lika: Iya, orang-orang jadi terdorong untuk ikut nyumbang dan ngebantu, terus begitu mereka dapat typeface-nya, mereka pakai dan orang lain yang melihatnya juga jadi terdorong untuk nyumbang juga. Jadi kayak ripple effect gitu. Kreatif, gak banyak embel-embel omongan, dan efektif.


Intinya…

Typefaces yang dibuat oleh Vitamin London sangat menarik karena bukan hanya sebagai pemanis dan punya nilai estetika, tapi juga mengangkat isu kesetaraan dan juga masalah lingkungan. Memang, semua persoalan tersebut gak bisa langsung terselesaikan dengan typography, tapi kedua typeface ini bukannya tanpa manfaat sama sekali. Dengan disediakan secara gratis asalkan ada bukti donasi, Topic Type BLM dan TopicType AUS jadi pendorong agar publik semakin peka, dan juga jadi pesan pengingat agar kejadian yang sama gak terulang lagi.


PERKEMBANGAN DALAM ILUSTRASI

Kamu pasti sering atau setidaknya pernah dengar kata “ilustrasi” kan? Secara definisi, ilustrasi sendiri adalah sebuah gambar atau desain yang digunakan untuk memperjelas isi dari sebuah paparan, baik dalam buku atau tulisan. Nah, tidak hanya berbentuk dua dimensi, ilustrasi pun dapat bertransformasi jadi sebuah animasi jika rangkaiannya digerakkan.


(Sumber: Tony Sebastian via unsplash.com)

Di tengah pandemi yang semuanya harus dilakukan secara berjarak, ilustrasi jadi salah satu bentuk desain grafis yang kembali populer dipakai oleh berbagai brand. Misalnya saja brand Tenue de Attire yang berkolaborasi dengan Hariprast atau @harimerdeka, seorang ilustrator Indonesia yang punya ciri khas dalam tiap hasil karya yang dibuatnya. Kolaborasi ini hadir dalam bentuk ilustrasi pada kain yang digunakan sebagai bahan kemeja dan masker dengan tema berjudul Serdadu Satu. Serdadu Satu dipilih sebagai representasi bentuk perlawanan terhadap pandemi dan bantuan pada mereka yang menghadapi kesulitan, karena tiap pembelian serinya akan dikonversikan dalam bentuk donasi. Selain itu, ada juga rebranding Bukalapak dengan ilustrasi karakter dan icon yang sederhana serta terasa lebih lokal, terinspirasi dari warung yang menjadi ciri khas Indonesia.

Masih menjadi bagian dari ilustrasi, beberapa brand juga mulai banyak mengusung kampanye iklan berbentuk animasi, salah satu alasannya mungkin karena faktor produksi yang harus diminimalkan, karena kan harus social distancing. Lewat animasi, ide-ide kreatif tetap dapat direalisasikan meski ruang gerak dibatasi. Contohnya di bulan Ramadan lalu, di mana ada Wardah yang muncul dengan kampanye “Cerita Tentang #SelaluAdaBahagia” serta Khong Guan dengan “Sebuah Kenangan Manis”. Keduanya hadir dalam bentuk animasi dengan jalan cerita yang menyentil sisi emosional, juga voice-over yang mendramatisir. Lalu, ada juga Shopee dengan kampanye “#ShopeeDariRumah”. Kemunculan kampanye iklan ini juga turut mendukung gerakan #DiRumahAja efek dari pandemi.


Menurut kami…


Tim Desain

Tim Non-Desain


Alex: Personally, gue suka bentuk animasi dalam iklan karena gue tau ada effort lebih dan challenge tersendiri untuk menyampaikan pesan dalam animasi itu. Kita jadi harus benar-benar menyimak setiap detail di dalamnya, beda dengan foto atau video biasa (dengan manusia sebagai modelnya) yang pesannya lebih direct.

Nia: Kalau buat gue, konsep ilustrasi dan animasi gini tuh bikin sadar ternyata tetap bisa ngena juga ya ke audience. Meskipun terpaut keadaan karena gak bisa produksi konten ‘real’, kesan yang timbul tuh tetap berasa personal, relate sama issue yang lagi happening, attractive, juga catchy!

Alex: Oh ya, terus biar bisa lebih relate lagi, copy on visual dan voice-over-nya juga harus tepat pemilihan dan efisiensi penggunaannya, biar pesan di dalamnya tersampaikan dengan tepat. Kayak ilustrasi Serdadu Satu itu.

Tommy: Gue setuju, ilustrasi kolaborasi @harimerdeka sama Tenue de Attire ini jadi salah satu contoh bentuk ilustrasi yang cukup mudah diterima. Mungkin juga karena gaya goresannya yang mirip dengan komik legendaris Tintin dan juga punya topik yang berbau Indonesia atau semangat nasionalisme gitu. Orang indo kan nasionalismenya tinggi banget!

Ami: Bener tuh, ilustrasi yang mengangkat kebhinekaan dan nasionalisme gue lihat memang mudah dapat tempat di hati orang-orang Indo, karena itu hal besar yang bisa dibanggakan gak sih sebagai rakyat?

Darryl: Dan dengan semakin banyaknya brand atau perusahaan ternama yang berkolaborasi dengan para ilustrator, semakin banyak juga apresiasi yang diberikan buat mereka. Terus kalau untuk penggunaan animasi sebagai media iklan, menurut gue gayanya lebih bervariatif sih, gak cuma gaya anime aja.

Geni: Iya, gaya semi realis tuh juga mulai sering dipakai.

Opin: Kalau menurut gue, bukan cuma gara-gara pandemi aja, tapi memang makin ke sini audience memang semakin suka dengan bentuk iklan atau campaign yang menggunakan ilustrasi dan animasi. Apalagi didukung sama perkembangan teknologi, rasanya bakal semakin banyak penggunaan jenis desain ini.


Intinya…

Animasi menjadi pilihan yang paling efektif dan efisien sebagai bentuk visual iklan atau campaign selama masa pandemi, karena tidak memerlukan banyak persiapan seperti tempat, kru, aktor, properti, dan lain-lain. Konsep seimajinatif apa pun dapat tervisualisasikan. Dan menurut kami, penggunaan ilustrasi atau animasi oleh sebuah brand -- terutama visual dengan gaya yang unik, beda dari yang lain, serta disimplifikasi (tidak realis) -- akan membuat dia (brand) mudah diingat oleh audiens, apalagi ilustrasi-ilustrasi yang mengangkat ciri khas Indonesia!

Seperti segala sesuatu yang berkembang mengikuti zaman, desain grafis juga hadir memperbaharui dirinya terus menerus. Bukan dalam periode panjang seperti yang dapat disebut “zaman”, namun berputar cepat karena dipengaruhi oleh keadaan dan juga berbagai peristiwa. Karena itu kehadirannya juga jadi sangat fleksibel--bisa bertumpu cenderung pada estetika, tapi bisa juga pada fungsinya, atau pada keduanya dengan perbandingan yang sama. Hadir sebagai pemanja mata dan jembatan di tengah-tengah masalah (walau tidak secara langsung menyelesaikan masalah), desain pun dapat mengemas semuanya ke dalam satu nilai baru, yakni membangun praktik dan pola pikir desain yang mengedepankan empati sebelum kemudian menjadi sebuah gagasan.


Bukan lagi kumpulan tren desain yang menjadi ciri suatu waktu, tapi waktu atau keadaan yang justru menjadi acuan berpikir dalam desain itu sendiri. Terlebih di masa pandemi ini, perancangan desain harus melibatkan empati sebagai prinsip dasar. Hal ini akan menghadirkan sebuah bentuk visual yang tidak saja estetik dan sedap pandang, tapi juga menonjolkan keintiman dan rasa kepedulian kita sebagai makhluk sosial. Dengan demikian, nampaknya teknologi tidak akan pernah benar-benar menggantikan peran desainer grafis, baik itu dari segi produksi maupun pemikiran yang berimplikasi pada kehidupan nyata.

© 2020 oleh Studio Lengua. All Rights Reserved