• Lia Levina & Nisa Rahtio

Sebuah Panduan Kolaborasi dengan YouTuber untuk Pemasar Digital

Sejak 15 tahun berdirinya, YouTube telah berevolusi dari sekadar platform yang memungkinkan pengguna awam untuk berbagi video amatir seperti cerita kehidupan sehari-hari, sebuah peristiwa atau kejadian penting, maupun video yang direkam secara profesional seperti video klip dan trailer film. Dengan semakin meluasnya pemasaran digital dalam berbagai bidang pekerjaan, semakin banyak pula content creator yang bermunculan dan memanfaatkan berbagai platform untuk memasarkan hal-hal yang ingin dijual – baik itu barang ataupun jasa. Tak terkecuali, YouTube!


Serupa dengan influencers di Instagram, kreator di YouTube biasanya memang sudah punya bidang atau konten dasar (niche) yang menjadi tema channel mereka; mulai dari fashion, main game, ASMR, reaksi buat video klip, unboxing, mukbang, sampai vlog-vlog tentang packing orders yang memperlihatkan cara seorang pemilik bisnis (biasanya berhubungan dengan desain) membungkus pesanan jualannya.


Yang berbeda, selain aspect ratio video yang berbanding terbalik dengan Instagram Story atau IGTV, tentunya adalah durasi! Dengan durasi video yang panjang (> 15 menit), konten yang ingin disampaikan pun jadi bisa lebih mendetail, dan tampilan visualnya juga bisa lebih dimaksimalkan dengan berbagai gaya editing yang unik atau cinematic gitu~~


(Sumber: Christian Wiediger via unsplash.com)

Nah, berkat adanya iming-iming “gaji” dari YouTube sendiri – lewat AdSense atau YouTube Partner Program untuk memonetisasi konten – semakin banyaklah kreator yang berlomba-lomba untuk menghadirkan channel berisi konten-konten apik demi meraup views serta subscribers sebanyak-banyaknya!


That’s why, kolaborasi antara sebuah brand dan kreator di YouTube menjadi hal yang sayang untuk dilewatkan, karena pastinya kamu mau pemasaran produk atau jasamu tepat sasaran, kan? Karena dengan adanya porsi konten-konten yang dinarasikan dengan lebih jelas dan terinci, target audience yang spesifik dan sudah tersedia, serta hubungan dan pengaruh kuat antara kreator dan pengikutnya, pemasaran produk atau jasa lewat konten YouTube jadi bisa memiliki amplifikasi yang lebih.



(Sumber: John Schnobrich via unsplash.com)

Sebelum memutuskan untuk berkolaborasi dengan seorang content creator/YouTuber, ada baiknya jika kamu sebagai pelaku bisnis menetapkan bagaimana produk atau jasa kamu ingin dilihat dari kacamata konten. Karena jika konten yang dibuat malah jadi tidak sesuai dengan brand identity kamu, hal tersebut akan berdampak negatif pada sales bisnismu, yang meliputi angka penjualan, jumlah pelanggan, kepuasan pelanggan, serta metrics di media sosial bisnismu seperti impressions, reach, hingga profile visits!


Lalu apa yang pertama kali mesti dilakukan? Membuat brief! Lewat brief ini, kamu bisa menetapkan hal-hal yang akan menentukan dan memastikan kolaborasi tersebut berjalan dengan baik sesuai dengan visi bisnis kamu. Beberapa hal yang menurut kami penting untuk dimasukkan ke dalam brief tersebut adalah:

  • Objektif

Apa tujuan kamu berkolaborasi dengan YouTuber? Hasil apa yang ingin kamu dapatkan?

  • Logistik

Minta rate card dan insight dari akun dan konten YouTuber, apakah worth your budget? Apa dan berapa produk yang akan kamu kirim untuknya? Apakah barang tersebut akan kamu berikan secara gratis setelah kolaborasi selesai, atau harus dikembalikan?

  • Waktu

Berapa lama kolaborasi ini akan berlangsung? Kapan video tersebut harus di-publish?

  • Key Message

Pesan apa yang ingin di-highlight dalam video tersebut? Konten seperti apa yang kamu inginkan – product review, vlog, tips and tricks? Sejauh mana kamu memberikan kebebasan pada si YouTuber dalam membuat kontennya?

  • Urusan legal

Seperti media usage rights, MOU, FTC disclosure (harus menggunakan tagar #ad atau #sponsored, kah?), dan sejenisnya


Setelah fokus dengan tujuanmu pada kolaborasi yang akan dilakukan, lalu bagaimana cara memilih seorang YouTuber yang tepat agar kontennya sesuai dengan yang kamu inginkan? Hal-hal berikut bisa menjadi pertimbanganmu dalam menentukan YouTuber yang sesuai dan sejalan dengan identitas produk:

  • Konten Dasar & Identitas Kreator

Banyaknya jenis bidang atau konten dasar yang dimiliki oleh tiap-tiap kreator membuatmu harus menentukan secara spesifik mana yang punya target audience mirip atau sama dengan brand-mu sebagai screening awal. Selain itu, pastikan juga identitas dari sang kreator sesuai dengan brand dan atau konsep kolaborasi.

  • Are They Worth the Budget?

Selain mengetahui budget yang harus kamu keluarkan untuk berkolaborasi, rate card dan insight juga membantu memproyeksikan indeks performa yang akan kamu dapatkan dari tiap konten oleh masing-masing kreator. Apakah proyeksi performa dan budget yang dikeluarkan sudah sesuai dengan metrics yang ditentukan untuk mencapai objektif?

  • Engagement Rate

Sebenarnya, berapa sih rata-rata engagement yang baik dari sebuah konten video di YouTube? Menurut Marketing Charts, sebuah video memiliki engagement yang sangat baik jika memiliki kriteria sebagai berikut:

  • 33,1% untuk rasio penonton dan subscriber

  • 0.04% untuk rasio jumlah komentar dan jumlah penonton video

  • setidaknya 3,72% untuk rasio jumlah likes dan jumlah penonton video.


  • Hindari YouTuber yang…

Sama seperti media sosial lainnya, tidak semua YouTuber punya reputasi yang mumpuni. Hindari kolaborasi dengan kreator yang sering membuat konten kontroversial dan tidak punya konten yang orisinil, kecuali jika brand-mu tidak masalah dengan exposure buruk.


(Sumber: @lifesimply.rocks via unsplash.com)

Untuk mendapatkan YouTuber yang tepat bagi brand-mu, kamu juga bisa menggunakan jalan pintas dengan bekerja sama dengan pihak ketiga yaitu agensi influencer/content creator, tentunya dengan budget yang sedikit lebih tinggi.


Nah, mulai masuk ke konten kolaborasi, bentuk konten yang lebih soft sell dan membaur biasanya lebih diperhatikan viewers karena mereka cenderung akan melewati konten-konten yang terlalu ‘ngiklan’. Dengan konten iklan yang lebih membaur pada konten kolaborasi dengan YouTuber, viewers akan memberikan atensi lebih dibanding iklan-iklan hard sell. Selain lebih menarik atensi, konten iklan yang lebih membaur juga masih jarang diterapkan sehingga kemungkinan konten kolaborasi brand-mu dengan seorang kreator untuk stand out juga jadi lebih besar!


Lalu bagaimana caranya membuat konten jadi membaur? Cara ini sebenarnya sudah sedikit terjawab dengan pemilihan YouTuber yang kontennya sesuai dengan target audience brand. Sisanya, kombinasi antara gambaran konsep komunikasi yang baik serta saran dari YouTuber terkait konten soft sell bisa membawa konten jadi lebih membaur dan sesuai dengan brand juga YouTuber itu sendiri. Hal ini bisa terbentuk dengan sesi brainstorm, sehingga komunikasi pada video kolaborasi sesuai dengan keinginanmu, juga kreatornya. Namun, meskipun membaur, tetap selipkan sedikit pembahasan mengenai brand, bisa sesederhana link pada description box atau tersirat lewat intensitas produk yang muncul di video.


Agar lebih mudah dipahami, berikut beberapa contoh video hasil kolaborasi brand dan kreator dengan output yang terlihat membaur.



Siapa: Peaceful Cuisine

Berapa: 2.360.000 subscribers (per 9 November ‘20)

Tentang: tutorial memasak

Kolaborasi dengan: Taste Australia

Produk/Jasa apa: jeruk navel Australia

  • Brand collaborator-nya tidak disebut baik secara lisan atau tulisan di dalam video

  • Bentuk kolaborasi disajikan dalam storytelling yang ditulis dalam description box

  • Si kreator tidak menyebut keuntungan apa yang dia dapat dengan kolaborasi ini (tapi ini juga bergantung pada brief atau key message yang ingin disampaikan oleh brand)

  • Tidak ada CTA, walaupun ada link yang mengarahkan audiens ke laman medsos brand di description box


Siapa: JOLLY

Berapa: 2.150.000 subscribers (per 9 November ‘20)

Tentang: Channel kedua atau sampingan dari channel Korean Englishman yang berisi tentang hal-hal berbau Korea

Kolaborasi dengan: Tommy Hilfiger

Produk/Jasa apa: koleksi pakaian TOMMYXLEWIS

  • Brand collaborator-nya terlihat jelas ada di video, tapi tidak disebutkan kalau video ini branded atau paid.

  • Bentuk kolaborasi disajikan dalam sebuah wawancara yang membicarakan produk koleksi pakaian terbarunya (walau tidak sepenuhnya dibahas sepanjang video),

  • Plus point: eksplorasi atau bentuk output konten kolaborasi yang beda dari yang lain!

  • Ada CTA di description box untuk cek koleksi terbaru tersebut


Siapa: maji마지

Berapa: 361.000 subscribers (per 9 November ‘20)

Tentang: tutorial memasak, makanan, lifestyle

Kolaborasi dengan: FlexCuc

Produk/Jasa apa: alat memasak

  • Brand collaborator-nya terlihat jelas (walaupun munculnya jarang-jarang) di video, tidak disebutkan kalau video ini branded content.

  • Bentuk kolaborasinya merupakan tutorial memasak, serupa dengan konten video-video sang kreator biasanya.

  • Ada CTA dan link yang mengarahkan audiens ke website brand-nya di description box


Siapa: NEVER TOO SMALL

Berapa: 1.410.000 subscribers (per 9 November ‘20)

Tentang: inspirasi desain untuk rumah kecil

Kolaborasi dengan: OPod

Produk/Jasa apa: unit rumah mikro

  • Brand collaborator-nya terlihat jelas ada di video, tapi tidak disebutkan kalau video ini branded atau paid.

  • Bentuk kolaborasi mengarah ke product knowledge yang memang masih selaras dengan topik channel-nya, yaitu desain rumah kecil

  • Tidak ada CTA, hanya ada link saja


Sebagai pembanding, beberapa video di bawah ini juga merupakan hasil kolaborasi brand dan kreator, namun dengan pendekatan yang lebih hard sell.


Siapa: Kinda Cool

Berapa: 445.000 subscribers (per 9 November ‘20)

Tentang: Daily Vlog, Fashion Ideas

Kolaborasi dengan: Dr. Martens

Produk/Jasa apa: sepatu

  • Brand collaborator-nya terlihat jelas ada di judul & isi video, disebutkan juga jika video ini disponsori oleh brand.

  • Bentuk kolaborasi merupakan fashion mix & match

  • Tidak ada CTA dan link terkait Dr. Martens


Siapa: TOPJAW

Berapa: 187.000 subscribers (per 9 November ‘20)

Tentang: Travel & Food Vlog

Kolaborasi dengan: Post Office Travel Money Card

Produk/Jasa apa: electronic money

  • Brand collaborator-nya terlihat jelas ada di judul & isi video, disebutkan juga jika video ini merupakan konten yang disponsori.

  • Bentuk kolaborasi mengarah pada product knowledge yang bisa digunakan saat travelling.

  • Ada CTA dan link untuk melakukan pembelian


Siapa: Liam Porritt

Berapa: 70.700 subscribers (per 9 November ‘20)

Tentang: Hal-hal terkait produktivitas

Kolaborasi dengan: The DONE App

Produk/Jasa apa: aplikasi habit tracker

  • Brand collaborator-nya terlihat jelas di judul & isi video, namun tidak disebutkan jika konten ini disponsori.

  • Bentuk kolaborasi adalah tips & tricks membangun kebiasaan baru, sesuai dengan topik channel.

  • Ada CTA dan di link untuk mengunduh aplikasi


Siapa: NEVER TOO SMALL

Berapa: 1.410.000 subscribers (per 9 November ‘20)

Tentang: inspirasi desain untuk rumah kecil

Kolaborasi dengan: Raycon

Produk/Jasa apa: wireless earbuds

  • Brand collaborator-nya tidak disebutkan di judul video, namun ada satu bagian video yang menjelaskan tentang produk.

  • Bentuk kolaborasi adalah tips & tricks untuk penataan rumah kecil, sesuai dengan topik channel.

  • Ada CTA dan link khusus untuk pembelian produk

Jadi, dari beragam hal yang telah dibahas di atas, apakah kamu jadi tertarik untuk collab sama YouTuber? Atau justru sudah menentukan akan berkolaborasi dengan YouTuber, tapi masih belum menggunakan pendekatan yang sesuai dengan brand-mu? Semoga panduan di blog ini bisa membantu kamu berkolaborasi menggunakan platform di luar Instagram dengan baik dan lancar, ya, supaya kamu bisa menjangkau audiens yang lebih luas lagi!

5 views

© 2020 oleh Studio Lengua. All Rights Reserved